Senyum Rp15 Juta Moro dan Geliat Pasar Tanah Abang Jelang Ramadan

Geliat pedagang Pasar Tanah Abang menjelang Ramadan dan lebaran tahun ini mulai terasa. Namun, belanja online masih membayangi semarak ramai pasar tersebut.

 

Jakarta, CNN Indonesia — Moro (40) sibuk meladeni pembeli yang berdatangan ke kiosnya di┬áPasar Tanah Abang Blok A, Jakarta Pusat pada Minggu (25/2) siang. Suasana pasar sangat ramai.
Wajah pria yang berjualan pakaian muslim itu tampak sumringah meski diminta ini-itu oleh pembeli. Ia rela naik-turun bangku untuk mengambil pakaian muslim yang dimaui pelanggannya sambil menyunggingkan senyumnya.

Senyum Moro tentu bukan tanpa alasan. Selain adab di depan pembeli, ia merasa senang karena pasar dipadati pengunjung dan kiosnya yang terletak di lantai LSG, ikut kecipratan.

“Alhamdulillah ramai. Satu karena mau bulan puasa. Kedua, juga kemungkinan karena hari Minggu,” ujar pria yang sudah berjualan sejak 2000 an itu kepada CNNIndonesia.com.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, siang itu Pasar Tanah Abang memang dipadati pengunjung. Di bagian luar sejumlah pedagang kaki lima yang menjajakan, mie ayam, nasi rames, hingga minuman ringan juga dikerubungi pengunjung.

Hal serupa juga terjadi di lobby pasar atau lantai LSG. Di sini para pengunjung memenuhi lantai.

Mereka berjalan pelan seraya menebarkan pandangan pada pakaian yang dijajakan pedagang.

Jalanan kecil di antara kios juga sesak. Adu bahu antar pengunjung pun tak terelakkan. Di antara mereka pun tampak tergopoh menenteng kantong berisi belanjaan yang sudah dibeli.

Sebagian lainnya tampak tengah tawar menawar dengan pedagang. Para pedagang tak kalah semangat, mereka terus berseru menawarkan barang jualannya. Alhasil, suara semua orang berpadu dan terdengar seperti dengungan lebah.

“Setiap mendekati Ramadan, pasar memang selalu ramai,” kata Moro.

Penetapan awal puasa atau 1 Ramadan 1445 H sendiri diperkirakan jatuh pada 10 Maret 2024 mendatang. Selain menjelang Ramadan, Moro menilai ramainya pengunjung juga terjadi setelah Pemilu berlalu.

Kendati, ia mengaku omzetnya belum naik signifikan. Namun, dibanding hari-hari sebelumnya saat ini memang lebih baik.

“Paling seramai-ramainya bisa Rp15 juta sehari, ada juga toko-toko lain lebih dari itu, ada juga yang di bawah itu, tergantung yang dibutuhkan (pembeli),” tutur Moro.

CNNIndonesia.com pun kembali menelusuri pasar terbesar dan tertua di DKI Jakarta itu. Naik satu tingkat ke lantai LG, suasana masih sama ramainya.

Ingar bingar lantai ini tak kalah dengan lantai sebelumnya. Pengunjung berjejal di beberapa kios. Pedagang pun tampak kerepotan melayani mereka.

“Boleh dilihat-lihat!”, “Silakan kausnya Rp50 ribu, Rp50 ribu, Rp50 ribu!”, “Boleh bunda, batiknya bunda, ukuran lengkap!” demikian seru para pedagang yang kiosnya belum terlalu ramai.

Pasar Tanah Abang Blok A sendiri terdiri dari 12 lantai. Setiap lantainya memiliki kategori mayoritas barang yang dijual.

Misalnya, lantai SLG adalah pusat penjual baju formal untuk bekerja seperti blaze hingga pakaian muslim. Lalu, lantai LG menyediakan berbagai perlengkapan ibadah seperti mukena dan sajadah.

Kemudian, lantai ground floor pusat baju anak, lantai 1 celana jeans, lantai 2 adalah surga bagi para pecinta batik, lantai 3 merupakan pusat aksesoris, lantai 3A menjual berbagai baju pria, dan lantai 5 pusat grosir busana muslim.

Lalu, lantai 6 adalah tempat berbagai macam model pakaian wanita yang modern, lantai 7 pusat grosir aneka macam sepatu, lantai basement 2 (B2) menyediakan beragam bahan tekstil, dan lantai basement 1 (B1) menjual berbagai perlengkapan rumah tangga seperti sprei, sarung bantal, gorden, hingga taplak meja.

Sedangkan, food court, tempat parkir dan masjid, berada di lantai 8 hingga 12.

Seperti Moro, Diah (47), seorang penjual pakaian di lantai LG mengaku pembeli ramai menjelang puasa. Diah mengaku keramaian pengunjung sudah terjadi sejak dua pekan lalu.
Meski begitu, ia mengatakan keramaian hari ini masih kalah dibanding periode yang sama tahun lalu. Diah menggambarkan secara kasar kalau tahun lalu pendapatan menjelang Ramadan bisa mencapai Rp60 juta. Sementara, saat ini mungkin cuma bisa sekitar Rp40 juta.

Menurutnya, penurunan itu terjadi tak lepas dari keberadaan marketplace atau belanja online.

“Efek TikTok sih kayaknya, habis ada TikTok agak sepi, (tapi untungnya) sekarang orang daerah mulai datang,” ucap Diah.

Ia lantas berdoa semoga keramaian ini terus terjadi. Dengan begitu para pedagang bisa untung.

Maklum, belakangan Pasar Tanah Abang sempat sepi buntut serbuan barang murah di TikTok Shop.

Pemerintah saat ini telah melarang keberadaan TikTok Shop. Pasalanya, platform tersebut menggabungkan sosial media dengan marketplace. Padahal, hal tersebut diharamkan.

“Normal aja, semua orang jualan ingin ramai,” kata Diah.

Naik ke lantai ground floor, suasana juga tetap masih ramai. Pengunjung di sini juga memadati beberapa kios yang menjajakan baju anak-anak.

Namun, beberapa kios tampak tutup. Sebagai gantinya, para pedagang yang masih membuka kios memanfaatkan rolling door yang tertutup untuk menggelar dagangannya.

Berdasarkan pengakuan sejumlah pedagang, kios-kios itu tutup karena beberapa pedagang libur di Minggu.

Naik lagi ke lantai 1, keadaan masih cukup ramai dan beberapa kios juga tutup. Para pedagang tetap gigih menawarkan barang yang dijual pada setiap pengunjung yang lewat.

“Gamisnya bu, silakan!” kata salah seorang pedagang.

Di lantai 3, kondisinya tak seramai di lantai-lantai sebelumnya. Pengunjung bebas lalu-lalang. Ada juga bocah-bocah yang bermain berlarian karena lorong antar tokok tak dijejali pengunjung.

Sementara, di lantai 3 suasana kembali ramai. Pemandangan di lantai ini dihiasi oleh pengunjung yang bertransaksi, tawar menawar, hingga pedagang yang kerepotan.

Namun, ada beberapa kios yang masih sepi pengunjung. Tampak pedagang di kios itu berusaha keras menarik perhatian pengunjung dengan memamerkan barang-barang jualannya.

Salah seorang penjualan pakaian anak dan dewasa di lantai ini bernama Arlen (24) mengatakan penjualan mulai meningkat jelang Ramadan. Menurutnya, hiruk-pikuk pengunjung memang selalu terjadi mendekati bulan puasa.

“Dibanding hari-hari biasa penjualan meningkat 80 persenan. Kalau hari biasa separuhnya saja susah dapat,” kata dia.

Kendati, keluhan Arlen sama seperti Diah, yakni penjualannya tak seramai tahun lalu. Arlen mengaku tahu lalu pengunjung sangat ramai sampai-sampai ia tak bisa beristirahat demi melayani pembeli.

Hal tersebut pun berimbas pada omzet. Arlen menyebut omzet saat ini tak sebesar tahun lalu. Ia menduga penurunan in tak lepas dari fenomena belanja online.

“Tahun kemarin omzet bisa Rp7 juta, Rp8 juta, hingga Rp10 juta. Kalau sekarang Rp5 juta sudah gede banget,” tuturnya.

Bergeser ke lantai 5,6, dan 7 suasana tidak bisa dibilang sepi maupun ramai. Pengunjung tetap terlihat lalu-lalang dan memadati beberapa kios. Meski tak berjejal, riuh rendah pengunjung dan pedagang tetap terasa.

Tat kala, naik ke lantai 8 atau food court, pengunjung sangat padat. Nyaris tak ada meja yang kosong, semua diisi oleh pengunjung yang ingin mengisi perut usai belanja atau sekadar mengaso.

Semua pedagang makanan, dari makanan luar hingga lokasi tampak sibuk meladeni pembeli yang lapar.

(agt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*