Saham WSBP Sentuh Harga ‘Gocap’

Seorang Pekerja melintas di depan PT Waskita Beton Precast, Karawang, Rabu, 3 Agustus 2016. PT Waskita Karya Tbk. memproyeksi nilai kapitalisasi pasar anak usaha PT Waskita Beton Precast bisa mencapai Rp10 triliun selepas proses penawaran umum perdana atau IPO tuntas. (CNN Indonesia/Djonet Sugiarto)

Saham emiten konstruksi yang juga merupakan anak usaha dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), yakni PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) terpantau sudah menyentuh level psikologis Rp 50/saham pada perdagangan sesi I Jumat (5/5/2023).

Per pukul 11:12 WIB, saham WSBP terpantau merosot 1,96% ke harga Rp 50/saham. Alhasil, saham WSBP masuk ke dalam jajaran saham ‘gocap’ per sesi I hari ini.

Saham WSBP sudah ditransaksikan sebanyak 132 kali dengan volume sebesar 2,72 juta lembar saham dan nilai transaksinya sudah mencapai Rp 137,01 juta. Adapun kapitalisasi pasarnya saat ini mencapai Rp 1,32 triliun.

Hingga pukul 11:12 WIB, di order offer atau jual, terdapat 75.983 lot antrian di harga Rp 51/saham. Sedangkan antrian jual terbanyak berada di harga Rp 53/saham yang sebanyak 126.593 lot.

Sementara di order bid atau beli, harga Rp 50/saham menjadi batas bawahnya pada hari ini, di mana ada 710.917 lot antrian beli yang tertera di harga tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, pergerakan saham WSBP terpantau melemah dan cenderung mendatar. Saham WSBP hanya menguat dua kali saja setidaknya dalam sebulan terakhir.

Selama sepekan terakhir, saham WSBP ambles 1,92%. Bahkan sepanjang April lalu, saham WSBP ambruk hingga 20%. Saham WSBP juga sempat disuspensi oleh bursa pada 28 Januari 2022 dan baru dibuka suspensinya pada 17 Maret lalu.

Koreksi saham WSBP hingga menyentuh level ‘gocap’ terjadi di tengah isu merger saham-saham BUMN Karya, sehingga nantinya emiten BUMN Karya hanya akan ada empat saja, dari sebelumnya berjumlah sembilan

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serius akan melakukan pembenahan pada perusahaan pelat merah yang memiliki kinerja buruk, termasuk di sektor karya.

Menteri BUMN Erick Thohir memastikan perusahaan BUMN di sektor infrastruktur dan karya akan dilakukan konsolidasi.

Erick mengungkapkan, terkait proses konsolidasi tersebut akan dibagi menjadi dua segmen, yakni perusahaan BUMN karya dengan skala kecil diserahkan kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) dan Danareksa untuk dilakukan merger.

“Kita tetap melakukan konsolidasi sesuai blue print dua tahun lalu. Sebaiknya dari 9 jadi 4 aja. Untuk karya-karya nanti kita mau coba konsolidasi Hutama Karya dengan Waskita, PP dengan WIKA,” ujarnya di kantornya, Rabu (3/5/2023).

“Konsolidasi karya dipastikan akan terjadi, yang mana belum jadi keputusan. Tapi framework sepertinya yang ada di PPA Danareksa karena yang kecil-kecil, di merger,” tambah Erick.

Namun, perusahaan dengan skala besar seperti Hutama Karya (HK), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), hingga PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) masih dalam proses pengkajian.

“Sistemnya kepemilikan seperti HK dan Waskita, seperti Bank Mandiri punya BSI padahal di bawahnya merger, tapi keputusan ini belum terjadi,” jelasnya.

Erick menambahkan, upaya konsolidasi BUMN karya akan dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu proyek yang saat ini sedang berjalan atau bahkan agar tidak merusak kinerja.

“Jangan sampai merger dan konsolidasi menghambat pembangunan, kan mereka lagi tender. Ini yang kita jaga. Jangan sampai kontraproduktif yang justru menghambat perkembangan usaha. Mesti hati-hati,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*