Saham Big Caps Rontok Berjamaah, IHSG Gak Bakal Happy Weekend

Pengunjung melintas dan mengamati pergerakan layar elektronik di di Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mengalami penurunan signifikan pada penutupan perdagangan sesi I hari ini (5/5/23). IHSG anjlok 1,37% secara harian menjadi 6.750,54.

Sebanyak 408 saham melemah, 195 tidak berubah dan hanya 101 saham yang menguat. Hingga istirahat siang, nilai transaksi mencapai sekitar Rp. 5,4 triliun dengan melibatkan 9,1 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 733 ribu kali.

IHSG kembali ambruk setelah data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2023 resmi dirilis pada pagi hari ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia pada kuartal I-2023 tumbuh 5,03% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari sebelumnya pada periode yang sama tahun lalu sebesar 5,02%.

Namun secara basis kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi RI mengalami kontraksi nyaris 1%, atau tepatnya sebesar 0,92%, dari sebelumnya pada kuartal IV-2022 yang tumbuh 0,32%.

Meski begitu, menurut Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud pertumbuhan ekonomi Indonesia ini masih konsisten di kisaran 5%.
“Tren pertumbuahn ekonimi tahunan selalu 5 p menunjukkan perekonomian kita masih stabil, mulai dari kuartal IV-2021 sampai dengan 2023 kuartal I perekonomian kita tumbuh pada level 5 persen ke atas,” papar Edy, dalam rilis data PDB, Jumat (5/5/2023).

Ekonomi Indonesia yang cenderung stabil secara tahunan nyatanya tidak dapat menggerakan IHSG. IHSG sepertinya terbebani oleh sentimen dari global, dimana krisis perbankan di Amerika Serikat (AS) masih jauh dari kata selesai.

Sebelumnya The Fed telah mengumumkan kenaikan suku bunga acuan 25 bp untuk merespons inflasi yang masih lengket dan di saat bersamaan krisis perbankan AS masih belum berakhir dengan First Republic resmi dicaplok oleh JPMorgan dan terbaru saham PacWest tercatat ambles lebih dari 50%.

Analisis Teknikal

IHSG dianalisis berdasarkan periode waktu 1 jam (hourly) menggunakan moving average (MA) dan pivot point Fibonacci untuk mencari resistance dan support terdekat.

Pada sesi I, IHSG merosot ke bawah level psikologis 6.800 tetapi masih tertahan di atas support 6.733. Pergerakan IHSG juga dilihat dengan indikator teknikal lainnya, yakni Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.

RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.
Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20. Dalam grafik harian, posisi RSI turun ke 33,23.

Sementara, dilihat dari indikator lainnya, Moving Average Convergence Divergence (MACD), grafik MACD berada di bawah garis sinyal dengan kecenderungan melebar.

IHSG berpotensi ditutup di zona merah pada sesi II dengan support terdekat di 6.733. Sementara, resistance terdekat di 6.752 dan 6.777.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*