Saham Bank Regional AS Rebound, Wall Street Dibuka Bergairah

Traders work on the floor at the New York Stock Exchange (NYSE) at the end of the day's trading in Manhattan, New York, U.S., August 27, 2018. REUTERS/Andrew Kelly

Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street dibuka berbalik menguat pada perdagangan Jumat (5/5/2023), setelah beberapa hari sebelumnya ditutup terkoreksi karena investor khawatir dengan krisis perbankan yang semakin meluas.

Per pukul 20:30 WIB, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dibuka melesat 0,95% ke posisi 33.442,738, S&P 500 melonjak 0,93% ke 4.099,17, dan Nasdaq Composite menanjak 0,89% menjadi 12.072,38.

Wall Street berhasil rebound ditopang oleh saham-saham bank regional di AS yang berhasil dibuka menguat setelah beberapa hari sebelumnya sempat terkoreksi parah.

Sebelumnya, saham PacWest sempat ambruk lebih dari 35%, setelah adanya kabar bahwa bank yang berbasis di Los Angeles, California tersebut mengeksplorasi opsi strategis, termasuk berencana untuk menjual seluruh asetnya.

Namun, JPMorgan Chase memberikan peringkat kepada saham bank regional AS yang sempat ambles terdampak dari PacWest.

JPMorgan meningkatkan Western Alliance, Zions Bancorp dan Comerica menjadi overweight, istilah di mana kondisi saham diprediksi akan mengalami kenaikan melebihi saham lainnya dari sektor yang sama.

″[Dengan] biaya modal naik dengan sangat cepat setelah berada di nol atau 1% begitu lama, dan kemudian bertahan di tingkat yang lebih tinggi ini, itu hanya menciptakan serangkaian masalah dan kami tidak tahu persis di mana risikonya akan muncul,” kata Dubravko Lakos, kepala ahli strategi ekuitas JPMorgan Chase, dikutip dari CNBC International.

Sementara itu, Wall Street juga berhasil dibuka menguat setelah rilis data penggajian non-pertanian (non-farm payroll/NFP) periode April cenderung lebih panas dari yang diharapkan.

Perekonomian AS menambahkan 253.000 pekerjaan pada April, sementara Wall Street mengharapkan 180.000 pekerjaan baru, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

Selain itu, tingkat pengangguran Negeri Paman Sam pada April lalu juga terpantau menurun sedikit menjadi 3,4%, dari sebelumnya sebesar 3,5% pada Maret lalu.

Hal ini menandakan bahwa sektor tenaga kerja di AS masih cenderung bervariasi, membuat investor seakan dibuat bingung dengan data tersebut. Ini juga membuat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) semakin enggan untuk merubah sikap hawkish-nya dalam waktu dekat.

Sebelumnya pada Kamis dini hari waktu Indonesia, The Fed memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bp), sesuai dengan ekspektasi pasar.

Dengan ini, maka The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak sepuluh kali dan dilakukan secara beruntun sejak Maret tahun lalu demi menjinakkan inflasi yang sudah melambung cukup tinggi.

Bahkan, suku bunga The Fed saat ini menjadi yang tertinggi sejak 2006 atau 12 tahun terakhir.

Meski kenaikannya sudah sesuai dengan ekspektasi, tetapi investor tetap kecewa dengan pernyataan The Fed, di mana mereka mengatakan bahwa masih terlalu dini menganggap siklus kenaikan suku bunga telah berakhir.

The Fed juga belum mengisyaratkan akan segera melunak dengan memangkas suku bunga. Namun, Chairman The Fed, Jerome Powell mengisyaratkan akan mengakhiri kenaikan suku bunga.

“Kami di komite berpandangan bahwa inflasi tidak akan turun secepat itu. Ini akan memakan waktu, jika ramalan itu benar. Tetapi dalam waktu dekat kami tidak akan memangkas suku bunga,” ujar Powell.

Di lain sisi, saham Apple berhasil melesat lebih dari 3% pada awal perdagangan hari ini, turut membantu penguatan indeks Nasdaq hari ini.

Melesatnya saham Apple terjadi setelah perseroan membukukan kinerja keuangan yang cukup apik pada kuartal I-2023, didorong oleh penjualan iPhone.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*