Rahasia Tokopedia Pikat Investor Pertama, Ternyata Kaos Ini

Tokopedia

 Di awal kemunculannya pada 2009 lalu, bisnis Tokopedia tak langsung berjalan mulus. Raksasa e-commerce tersebut masih kesulitan mencari pendanaan.

Salah satu venture capital (VC) awal yang melihat potensi Tokopedia kala itu adalah East Ventures (EV).

Co-founder and Managing Partners EV, Willson Cuaca, menceritakan pertemuan pertamanya dengan William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison. Keduanya merupakan Co-Founder Tokopedia.

Willson juga memulai EV pada 2009. Saat itu, ia melihat ada tiga hal penting di Indonesia. Pertama, cuma 30 juta pengguna internet dari total 230 juta populasi. Artinya, penetrasi internet saat itu masih 13%.

“Jumlah ini memang sangat rendah, tetapi ini berarti pertumbuhan akan berlangsung dengan cepat, gelombang besar pengguna internet akan datang,” kata dia dalam sesi Tokopedia Podcast (Topcast), dikutip Kamis (4/5/2023).

Kedua, beberapa platform internet dari luar negeri ada di Indonesia tanpa ada investasi apapun. Ia mencontohkan Facebook dan Twitter yang banyak digunakan di Tanah Air, namun saat itu bahkan tak memiliki kantor untuk melayani pengguna.

Terakhir, BlackBerry pada masa itu masih berjaya. Willson melihat perangkat seluler tersebut revolusioner. Pengguna pun memiliki kecenderungan menjajal HP 24/7. Menurut dia, kebiasaan itu akan mengubah dasar-dasar bisnis digital.

“Tapi, apa yang akan kita investasikan saat itu? Kami datang dengan konsep model kapsul waktu. Jika melihat sejarah internet, ekonomi digital, hal itu selalu dimulai dengan e-commerce, seperti AS, Rusia, Jepang, Cina, Singapura, di Indonesia pun menurut kami akan sama,” Willson menjelaskan.

Ia melihat pola tren dari luar negeri. Menurut dia, sebenarnya apa yang akan terjadi di Indonesia bisa diramalkan dengan melihat tren di negara-negara besar.

“Menurut kami, e-commerce adalah lokomotif perekonomian, jadi untuk alasan tersebut, kami memutuskan bahwa kami perlu berinvestasi di e-commerce. Jadi itulah hipotesis besarnya,” ia menuturkan.

Deal dengan Tokopedia dalam 48 Jam

Dengan bekal analisa tersebut, Willson mulai melakukan riset dan akhirnya menemukan nama Tokopedia. Perkenalannya dengan Tokopedia berkaitan dengan kaos ‘Kami Tidak Takut’. Saat itu berdekatan dengan kejadian teror bom di Indonesia.

“Kalau saya tidak salah, ketika Tokopedia diluncurkan pada 17 Agustus 2009, itulah ketika saya tertarik pada kaos ‘Kami Tidak Takut’,” ujarnya.

Tak berhenti sampai di situ, ‘semangat’ kata-kata di kaos tersebut kemudian menginspirasi seluruh branding Tokopedia pertama kali. Wilson makin tertarik dan mengirim email ke William.

‘”‘Hei William, apa kabar? Saya melihat kampanye kamu, dapatkah kita bertemu?’ Lalu dia bilang, ‘ayo ketemu!’,” ujar Willson.

Willson langsung terbang ke Jakarta dan bertemu dengan William. Di pertemuan tersebut, William menceritakan kisah bagaimana dia memulai Tokopedia. Menurut Willson, waktu itu jumlah transaksi di Tokopedia paling tinggi hanya sekitar 100 per hari, sangat rendah, dan kadang-kadang hampir nol.

“Jadi, kami melihat William dan Leon, tepat ketika mereka menggambarkan impian mereka, apa yang ingin mereka lakukan untuk mengubah perdagangan, dan bagaimana mereka ingin membantu pedagang kecil, kami seperti terpesona,” urai Willson.

Karena sudah sama-sama cocok, Willson pun tak menungu lama. Proses berjalan lancar dan kedua pihak bertemu lagi keesokan harinya. Di sore itu juga, mereka deal.

“Jadi, kesepakatan tersebut terjadi dalam 48 jam, salah satu yang tercepat,” ia bercerita.

Dari situ, Willson dan William menjadi dekat. Ia mendapat cerita tentang bagaimana William berjuang menggalang dana pertama kali. Wilson pun berambisi membantu Tokopedia berkembang lebih besar.

“Kami benar-benar membahas tentang bagaimana EV dapat membantu mereka terhubung dengan investor dari Jepang, Singapura, dan lain sebagainya,” kata dia.

Ia pun masih ingat saat itu ketika di tengah pembicaraan dengan William tiba-tiba muncul nama ‘Softbank’. Wilson pun sesumbar akan membuat Tokopedia besar hingga bisa membawanya ke Softbank.

“Ini menjadi kenyataan beberapa tahun kemudian,” ujarnya.

Willson mengaku kala itu tak terlalu memperhatikan presentasi dari William dan Leon. Ia lebih mementingkan soal visi.

Ia mencoba memahami kepribadian William dan Leon. Misalnya tentang apa hal yang mau mereka capai, mimpi, dan cara meraihnya.

“Jadi, seluruh hipotesis tentang tahapan awal investasi pada dasarnya adalah tentang orang-orangnya, semua tentang para pendiri,” ia menjelaskan.

“Jadi, kami sangat beruntung sudah bertaruh di Tokopedia, dan ternyata berhasil,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*