Ini Respons Resmi RI soal WNI Disekap di Myanmar

Para Menteri Luar Negeri (Menlu) negara-negara ASEAN serta Sekretaris Jenderal ASEAN berfoto bersama sebelum memulai pertemuan 32nd ASEAN Coordinating Council (ACC) Meeting di Nusantara Hall, Sekretariat ASEAN, pada Jumat (3/2/2023). (Dok. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI)

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Lestari Priansari Marsudi buka suara terkait 20 warga negara Indonesia (WNI) yang diduga disekap di Myawaddy, Myanmar.

Dalam konferensi pers di Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jumat (5/5/2023), Retno mengatakan saat ini pemerintah sedang memberikan perhatian besar dan sedang terus berusaha memberikan perlindungan terhadap WNI yang menjadi korban perdagangan manusia di Myanmar.

“Saat ini pemerintah terus melakukan komunikasi baik dengan otoritas pusat di Myanmar dan otoritas lokal di Myawaddy, serta organisasi lain seperti IOM (International Organization Migran),” ujar Retno.

“Jadi kami melakukan komunikasi dengan seluruh pihak dengan tujuan memberikan perlindungan kepada WNI dan dapat mengeluarkan WNI dengan dari wilayah tersebut dengan selamat,” tambahnya.

Retno juga menyebut bahwa faktor wilayah menjadi sebuah tantangan bagi RI untuk menyelamatkan WNI di sana.

“Myawaddy merupakan wilayah di mana otoritas pusat tidak memiliki kontrol secara penuh. Jadi bisa membayangkan tantangan yang dihadapi,” katanya.

Myawaddy merupakan salah satu kota di Myanmar yang tidak jauh dari perbatasan Thailand. Letak Myawaddy 415 km dari Yangon, kurang lebih 500 km dari Bangkok, 560 km dari Naypyidaw, dan 11 km dari Mae Sot atau area perbatasan Myanmar dan Thailand.

“Kasus ini menunjukkan tingginya atau besarnya magnitude dari tindakan kriminal perdagangan manusia yang korbannya adalah warga negara ASEAN,” kata Retno lagi.

“Sambil terus menangani masalah di hilir, saya ingin mengingatkan kembali pentingnya pembenahan masalah di hulu, diseminasi praktek perdagangan manusia ini perlu terus dilakukan sampai ke tingkat daerah atau perlu dilakukan sampai ke tingkat desa,” tambahnya

Retno juga menyebut Law Enforcement harus ditegakkan dan pembenahan dari hulu agar tidak menambah korban dari hari ke hari.

“Korban perdagangan manusia yang dilakukan melalui online scam semakin marak di Asia Tenggara. Oleh karena itu Indonesia sebagai ketua ASEAN berusaha untuk mengangkat isu ini di dalam KTT ASEAN ke-42 nanti,” pungkasnya.

Sebagai informasi, 20 WNI yang yang diduga disekap di Myawaddy dilaporkan kerap mengalami kejadian menyiksa, seperti naik kapal dijaga orang bersenjata hingga disetrum kala bekerja. Hal ini sempat disampaikan oleh kerabat salah satu korban.

Para WNI yang menjadi korban rata-rata terpaksa melakukan penipuan (scamming) agar bertahan hidup selama di Myanmar. Jika mereka tak mencapai target, mereka akan disiksa. Mereka juga tidak dapat meminta bantuan dari luar karena hampir semua ponsel disita.

Sebagai informasi,  WNI yang menjadi korban di Myanmar awalnya masuk ke Thailand tanpa visa kerja. Mereka hanya mengandalkan bebas visa kunjungan agar dapat mendapatkan pekerjaan di luar negeri.

Mereka kemudian direkrut pekerjaan palsu oleh para pelaku online scam. Ini membuat mereka berakhir di Myanmar hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*