Emiten-Emiten Ini Minim Utang, Rasio DER Terkecil!

Suasana Bursa Efek Indonesia (BEI).  (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

 Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat memiliki rasio utang yang kecil dibandingkan total modal (ekuitas) perusahaan. Ini menandakan perusahaan tersebut lebih mengandalkan sumber pendanaan lainnya, baik internal maupun eksternal, selain utang.

Emiten penyedia jasa kost dan rental mobil PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO) menjadi yang paling minim dalam hal pendanaan utang. Ini terlihat dari rasio utang dibandingkan ekuitas (debt-to equity ratio/DER) yang hanya 0,19% atau jauh di bawah rule of thumb 100% (1 kali).

Apabila dilihat dari neraca perusahaan per 31 Maret 2023, total aset INDO Rp1,02 triliun. Dari jumlah tersebut, total kewajiban (termasuk utang) alias liabilitas perusahaan hanya Rp1,98 miliar, dengan porsi terbesar liabilitas sewa Rp603,45 juta.

INDO tidak memiliki utang bank atau obligasi.

Dari total aset di atas, kas dan setara kas INDO mencapai Rp246,95 miliar, jauh di atas liabilitas perusahaan. Seiring dengan itu, total ekuitas perusahaan mencapai Rp1,017 triliun.

pengembang dan pengelola di bidang properti seperti hotel, villa, dan resort

Di bawah INDO, ada emiten pengembang dan pengelola hotel hingga resort PT Surya Permata Andalan Tbk (NATO) yang memiliki DER hanya 0,21%.

Dengan total aset Rp800,27 miliar per 31 Maret 2023, liabilitas NATO hanya sebesar Rp1,68 miliar dengan ekuitas mencapai Rp798,56 miliar.

Seperti INDO, NATO juga tidak memiliki utang bank dan obligasi.

Kas dan setara kas NATO juga di atas liabilitas perusahaan, yakni sebesar Rp138,91 miliar per 31 Maret 2023.

Contoh lainnya, perusahaan real estate PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) yang punya DER 0,30%.

Total aset REAL sebesar Rp352,56 miliar per akhir Maret 2023. Sedangkan, kewajiban perusahaan hanya Rp1,06 miliar, dengan ekuitas Rp351,50 miliar.

REAL juga tidak mempunyai utang bank atau sejenisnya.

Selain ketiga nama tersebut, berikut 10 besar emiten dengan rasio utang terkecil di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menariknya, mayoritas emiten-emiten tersebut memiliki kapitalisasi pasar (market cap) mini, rerata di bawah Rp700 miliar.

Demikian pula, harga sahamnya memiliki nominal yang kecil dan bahkan ada beberapa yang ‘nyender’ di level gocap (Rp50/saham).

Ini artinya, kendati barangkali emiten-emiten di atas terbilang aman soal rasio utang, tetapi investor tetap pula melihat rasio lainnya, termasuk profitabilitas, dan juga melihat apakah harga saham perusahaan mencerminkan hal tersebut atau tidak.

Kendati memiliki DER kecil, apabila suatu saham emiten diparkir di gocap dan memiliki, katakanlah, rasio pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) yang kecil dan pertumbuhan yang buruk tentu bukan saham yang diidam-idamkan investor.

Secara umum, pendanaan utang (debt financing) tidak selalu buruk karena bisa menjadi pengungkit (makanya diberi istilah leverage) perusahaan dengan modal kecil demi mengejar pertumbuhan lebih signifikan ke depan.

Rasio DER, asal diikuti oleh pertumbuhan laba yang konsisten, tentu bukan selalu menjadi hal yang buruk.

Perusahaan yang mengabaikan sama sekali pendanaan utang bisa melewatkan momentum pertumbuhan dan memaksimalkan laba.

Namun, tentu jenis pendanaan utang memiliki sejumlah kekurangan, seperti beban bunga yang harus dibayarkan ke peminjam dan risiko beban utang meningkat ketika arus kas perusahaan sedang memburuk atau ketika pendapatan merosot tajam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*