Bye Batu Bara.. Ini “Harta Karun” Baru Indika

Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam negeri, bahkan tak mustahil bila meninggalkannya sama sekali. Hal ini tak lain demi mencapai target netral karbon pada 2060 atau lebih cepat, seperti yang dikampanyekan banyak negara di dunia. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

PT Indika Energy Tbk (INDY) membeberkan bahwa perusahaan berencana melepaskan bisnis batu bara secara bertahap dan akan memperluas fokus bisnis pada pertambangan mineral seperti emas dan bauksit, serta energi hijau.

Seperti diketahui, selama ini INDY berfokus pada pertambangan batu bara. Namun kini perusahaan mulai mengalokasikan investasi pada tambang lainnya seperti emas dan bauksit.

Hal itu diungkapkan Director & Group https://rtphuat138slot.online/ Chief Investment Officer INDY Purbaja Pantja.

Purbaja mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan PT Masmindo Dwi Area untuk pertambangan emas. Purbaja membeberkan bahwa cadangan emas yang saat ini berada di Awakmas Sulawesi Selatan memiliki cadangan yang cukup besar yakni hingga 1,5 juta ons.

“Kita lihat reserve tambang emas ini jumlah tidak kecil, jumlahnya di kisaran sekitar 1,5 juta ounce of reserve. Kita lihat mine life-nya juga nggak pendek,” jelas Purbaca dalam acara Paparan Publik Indika Energy, Jakarta, Kamis (25/5/2023).

Selain itu, ada pula sektor lain yang akan menjadi lini bisnis baru INDY, yakni pertambangan bauksit. Purbaja menyebutkan bahwa pihaknya bersama dengan Mekko Mining akan berfokus pada pertambangan bauksit di Ngabang, Landak, Kalimantan Barat.

Pada lokasi tambang bauksit tersebut, kata Purbaja, memiliki sumber daya bauksit hingga 30 juta ton dan cadangan hingga 5,7 juta ton. Sedangkan, kapasitas produksi bauksit nantinya ditargetkan mencapai 1 juta ton per tahun.

“Yang kedua bauksit, yang di atas namakan Mekko Mining itu berlokasi di Kalimantan Barat itu memang area daerah yang memang sangat kaya bauksit. Khusus untuk Mekko sendiri sumber dayanya kisarannya sekarang sekitar 30 metrik ton dan cadangannya, sekitar 5,7 metrik ton, dengan kapasitas produksi sekitar 1 juta per tahun,” jelasnya.

Selain itu, Purbaja juga membeberkan bahwa investasi yang telah dikerahkan untuk pertambangan bauksit hingga kuartal 1 2023 mencapai US$ 15 juta atau setara Rp 224,1 miliar.

“Dan untuk pertambangan bauksit ini investasi kita sampai dengan Q1 2023 kisaran hampir US$ 15 juta,” tutupnya.

President Director PT Indika Energy Tbk Arsjad Rasjid juga sempat mengatakan saat ini sektor batu bara masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi perusahaan. Namun bicara mengenai prospek ke depan, perusahaan sedikit demi sedikit bakal mulai beralih ke bisnis lain.

“Pelan-pelan kita lepas (batu bara) tapi sambil kita melepas kita siapkan penggantinya misalnya emas dan bauksit,” ujar dia kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (17/5/2023).

Arsjad menilai perusahaan mempunyai komitmen kuat dalam mendukung terbentuknya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Karena itu, tidak hanya masuk ke bisnis kendaraan listrik roda dua, namun Indika juga berekspansi ke pertambangan bauksit.

“Balik lagi yang kita lihat bukan hanya manufacturing dari EV tapi kita harus dari ekosistem. Makanya kalau dilihat kita akuisisi perusahaan yang bauksit kita merasa bahwa kita punya keahlian loh di mining,” kata Arsjad.

Sementara terkait dengan emas, keputusan perusahaan berinvestasi di proyek tembang emas lantaran emas dinilai memiliki prospek yang positif, seiring dengan stabilnya harga komoditas tersebut. Oleh sebab itu, perusahaan berharap mulai 2-3 tahun ke depan dapat melakukan produksi pertamanya di Sulawesi Selatan.

“Emas itu kan kalau kita lihat story tetap stabil. Revenue kita, kita lihatin tuh bagaimana bisa make sure supaya mempunyai kekuatan. Nah dari sisi itu emas stabil kita mulai masuk kita harapkan 2-3 tahun ini,” Kata dia.

Selain itu, guna mengurangi penggunaan batu bara, Indika juga mempunyai konsesi hutan tanaman industri lebih dari 170 ribu hektare dari empat konsesi hutan yang dimiliki. Perusahaan ini, memiliki rencana untuk mengembangkan wood pellet untuk biomassa dan carbon offset.

“Makanya kita punya 170 ribu hektar hutan di dalam portofolio energi. Ini akan kita bagi dua. Satu untuk hutan tanaman industri sisanya kita akan masuk ke bisnis revenue dari carbon credit,” ujarnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*